Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Ateisme: Siapa Takut?


ATEISME (saya belum mendefinisikan istilah ini) bagaikan hantu
yang terus-menerus jadi mambang bagi kehidupan keagamaan. Agama apa pun. Dan, khususnya
bagi para birokrat, kaum elite serta para pegawai agama, yang membayangkan
agama sekadar kumpulan doktrin, ajaran, dogma yang dipercaya saja, lalu
diturunkan dari generasi ke generasi dalam bentuk repetisi bebal.

Saya menyebutnya bebal, karena hampir tidak ada proses pengunyahan dan pencernaan secara kritis apa yang diwariskan itu. Pokoknya percaya saja: believe it or leave it! Bagi kelompok seperti ini ateisme adalah hantu, dan

kaum ateis adalah pengganggu ke(ny)amanan hidup beragama, kelompok subversif yang pantas dicurigai, atau malah diperangi – kalau perlu sampai tumpas kelor. Esai ini, tanpa berpretensi menjadi apologi bagi ateisme, mau mengajukan cara baca baru yang, saya yakin, dapat membuka ruang dialog yang konstruktif dan kritis dengan ateisme.

Namun, untuk itu dibutuhkan optik sekaligus penunjuk arah pembicaraan. Saya mau mengusulkan optik itu adalah apa yang sekarang dikenal sebagai teologi politis: bahwa suatu teologi, yakni pertanggungjawaban secara rasional-kritis sikap keberagamaan, jika mau sungguh-sungguh bertanggung jawab pada zaman modern, artinya pascakritik pencerahan Kant, harus bersifat politis.

Sejak Immanuel Kant melontarkan program Kritik Nalar Murni-nya yang masyhur itu, seluruh upaya teologi metafisis (atau bahkan metafisika itu sendiri!) jadi mustahil dilakukan, kecuali menjadi sekadar repetisi bebal

dogmatisme yang tadi sudah disinggung. Metafisika, kata Kant, merupakan skandal akal budi manusia: pada satu pihak pertanyaan-pertanyaan metafisika tak terelakkan karena merupakan bagian internal dari dinamisme akal budi; tetapi, pada pihak lain, upaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi berada di luar batas-batas kemampuan akal budi manusia.

Dengan kata lain Kant, memakai ibarat lucu dari John D Caputo, bertindak seperti kepala polisi yang menarik garis batas antara yang mungkin dan yang tidak mungkin. Apa yang dilakukan Kant adalah menggelar “peradilan akal budi” (tribunal of reason, istilah Kant) tanpa ampun. Dan dalam persidangan itu, baik agama, Tuhan, malaikat, surga, dan neraka menjadi satu bagian dengan iblis, setan, jin, genderuwo, dll yang hanya laku sebagai serial kisah misteri di TV. Karena itulah Kant memberi judul bukunya yang terkenal, yang menjadi cetak biru Pencerahan, sebagai Agama Dalam Batas-Batas Akal Budi Semata.

Dunia modern yang kita hidupi adalah ahli waris kecurigaan Kant pada setiap obrolan metafisika. Lalu apakah itu berarti agama tidak punya prospek lagi? Apakah semua obrolan teologi menjadi sekadar salah satu dari kisah-kisah misteri di TV? Atau, dalam konteks obrolan kita, apakah ateisme merupakan konsekuensi yang tak terelakkan?

Ya dan tidak. Ya, jika agama dan teologi hanya berkutat terus-menerus dengan soal-soal metafisik, soal-soal yang mengatasi yang-fisik (meta-fisika). Pada ranah metafisika itu, baik posisi teisme maupun ateisme, sebenarnya

merupakan posisi-posisi yang berada di luar batas-batas kemampuan akal budi manusiawi, dan karena itu tidak dapat dibuktikan. Maksudnya, baik teisme maupun ateisme, sesungguhnya, merupakan keyakinan. Dan, keyakinan berada di luar arena pembuktian, sebab meyakini sesuatu sudah merupakan bukti pada dirinya sendiri – semacam self-fulfilling evidence.

***

Menurut saya, optik teologi politis di atas memberi kita cara membaca yang baru, yang memungkinkan suatu dialog kritis dan konstruktif antara agama-agama dan ateisme. Dan dialog itu, saya yakin, sangat fundamental bagi masa depan agama, jika agama-agama mau tetap setia pada fitrahnya sebagai jalan-jalan keselamatan manusia. Ateisme merupakan kritik-internal terhadap kecenderungan agama untuk menjadi totaliter, dan perannya sebagai justifikasi kekuasaan yang juga cenderung totaliter.

Justru di situlah, pada perannya sebagai suara kritis terhadap politisasi agama, kita dapat menemukan arti paling awal kata a-theoi, ateis. Pada masa lampau, kehidupan-bersama dalam suatu polis didasarkan pada kepercayaan

penduduk pada dewa-dewi yang disembah. Banyak ahli yang mengingatkan bahwa polis sejatinya merupakan sakrale gemeinschaft, paguyuban suci, yang merupakan manifestasi dunia Ilahi. Dan polis berfungsi semacam penyambung antara dunia Ilahi dengan dunia manusiawi, antara makro dan mikrokosmos. Di situ agama

merupakan identitas yang menyatukan, sekaligus membedakan satu polis dari polis yang lain. Singkatnya: agama politis.

Unsur dasar ini kemudian memperoleh bentuk yang signifikan ketika kerajaan-kerajaan besar mengambil alih pemahaman agama politis tersebut. Seluruh kesibukan agama dan para birokrat agama yang menjadi aparatus kerajaan adalah menentukan dewa-dewi “resmi” mana yang diakui dan layak disembah, serta ritus-ritus kultus publik apa yang patut dilakukan warganya. Di tangan kaisar Agustus, arsitek utama imperium Romawi, agama politis menjadi alat ampuh pemberi legitimasi magis-religius pada kekuasaannya dan ambisinya untuk mendirikan Pax Augusta. Kaisar lalu disembah sebagai Filius Dei, Anak Allah, atau bahkan Dominus et Deus, Tuhan dan Allah! Di situ, seluruh ritus publik diarahkan menjadi Keizercultus, kultus penyembahan sang kaisar, yang menjadi leitmotiv agama politis.

Orang-orang Kristen merupakan a-theoi dalam artian mula-mula, sebab syahadat iman mereka secara radikal menggugat Keizercultus itu. Bagi seorang kristiani, tidak ada Kyrios (Tuhan) yang lain selain Kristus sendiri. Kristus,

bukan Kaisar, adalah Filius Dei, dan bahkan Dominus et Deus sesungguhnya. Karena itu, mereka menolak ikut serta dalam ritus-ritus publik – menjadi a-theoi, tak-bertuhankan Kaisar! – dan menjadi para syuhada. Gereja perdana

yang ibadahnya berlangsung di bawah tanah bisa dibilang merupakan situs-situs resistensi terhadap kultus publik itu. Nantinya, ketika kaisar Konstantinus Agung, yang konon menjadi Kristen itu, naik takhta dan agama Kristen diakui sebagai “agama negara”, kekristenan pun mengadopsi struktur-struktur agama politis sebelumnya. Kali ini giliran orang-orang Yahudi dan non-Kristen pada umumnya yang dituduh a-theoi!

Esai ini tidak berpretensi menyediakan apologi bagi ateisme. Akan tetapi, seperti terlihat dalam tilikan historis di atas, kritik tajam ateisme – tanpa harus terjebak ke dalam diskusi metafisika yang melelahkan dan sia-sia itu – merupakan suara yang harus didengar oleh agama-agama. Ateisme harus tetap menjadi mambang yang terusmenerus mengganggu ke(ny)amanan agama. Sebab, jika tidak, dengan mudah agama terjebak menjadi bagian integral kekuasaan yang cenderung totaliter. Ignas Kleden pernah mengingatkan, “Agama sebagai suatu lembaga cenderung mempunyai sejumlah kekuasaan dalam dirinya, dan selalu terdapat suatu proses sosial di mana kekuasaan agama diperluas menjadi kekuasaan dunia, dan kekuasaan dunia diperluas ke dalam daerah kekuasaan agama.” Ateisme merupakan resistensi terhadap kecenderungan ini. Dan, karenanya, dapat menjadi mitra dialog kritis yang sangat diperlukan oleh agama-agama. Jadi, siapa takut ateisme?? ***

Tuhan sudah Mati…

Zarathustra bersunyi di puncak pegunungan bertahun-tahun, mencari esensi semesta dan dirinya sendiri. Suatu hari ditatapnya sang mentari pagi. “Hai bintang yang besar. Macam apa kebahagiaanmu tanpa adanya mereka yang kau sinari.” Dan turunlah ia ke kota-kota, ke yang dinamakan peradaban. Mengajak manusia untuk mengerti arti keberadaannya di semesta ini, memahami kebesaran dirinya sendiri, menolak kebergantungan pribadi pada apa pun. “Tuhan sudah mati.” Zarathustra membunuh Tuhan.

Tentu, ini Zarathustra rekaan Nietzsche. Nietzsche yang hidup di akhir abad ke 19. Kita tahu apa itu akhir abad ke 19. Ilmu pengetahuan dan teknologi sedang mencapai puncaknya, atau setidaknya mereka pikir begitu. Newton dan kawan-kawan membuat semua orang yakin bahwa semesta itu merupakan kalkulasi linear yang dapat diuji, dengan sebab akibat yang jelas. Dan pengaruhnya terekstrapolasi ke Darwin, Marx, juga kemudian Freud, entah siapa lagi. Barangkali 70% ilmu fisika sudah dikuasai, sisanya bisa diprediksikan, dan ilmu-ilmu lain analog dengan fisika.

Tapi sebentar, apakah blog-ing termasuk salah satu bidang yang se-analog dengan fisika..? Saya tidak tahu persis, yang jelas dan yang saya tahu betul, Tuhan selalu menunjukkan keberadaannya (baca: tanda-tanda kehidupan-Nya) dengan 2 mekanisme alam (seperti yang tersirat dala Al Quran surat Al Alaq ayat 1-5), yang pertama, yaitu iqro’ atau membaca dalam arti harfiahnya, yaitu sebuah mekanisme mendasar tentang bagaimana seorang manusia mendapatkan ilmu pengetahuan, membaca bukan berarti menterjemahkan teks-teks yang tertulis, tapi membaca adalah melihat, mengamati, mengambil pelajaran dan mengambil kesimpulan dari semua kejadian yang tersebar di alam semesta. Dan yang kedua adalah al Qalam, yang secara harfiah artinya adalah pena, sebuah perangkat dasar untuk menulis.

Jadi jika di dalam blog ini, 2 komponen dasar itu mati, jangan berharap banyak, kawan..! Bisa jadi Tuhan sedang mati atau reses satu sesi di blog ini, dan menunggu kita untuk membangunkan-Nya lagi..

Seingatku yang bilang bahwa agama layaknya opium/candu adalah Karl Marx, bukan Nietsche. Nietsche mengatakan Tuhan telah mati. Tetapi ya sama2 ngritik2 agama.

Agama jadi candu ketika agama membuat orang mabuk dan lupa diri, asyik berat berliturgi, puas doa2, nyanyi2 dan puji2an, formalisme agama, mung mikir seputar altar. Yang tak lain agama jadi tempat pelarian manusia setelah manusia gagal/lelah menghadapi situasi dunia.

Dengan demikian agama sekedar jadi pemuas dan gagal kehilangan watak humanis dan pembebasannya. Agama jadi tumpul karena hanya dimaknai seputar teks Kitab Suci, berhubungan saja dengan Yang Diatas. Jadi agama jadi opium ketika hanya berkaitan dengan teosentris dan bukan antroposentris.

Marx mendasarkan pikirannya dari gagasan Feurbach yang mengatakan bahwa agama tidak saja ttg Tuhan yg sewenang-wenang menyuruh manusia utk patuh dan taat kepadaNya tetapi bagaimana agama bermakna antroposentris yaitu sebagai ajaran ttg hakekat manusia ialah bagaimana manusia bisa terus mengembangkan dirinya.

Susahnya ada banyak orang yang keblinger mencomot begitu saja cuplikan Marx bahwa agama memang candu dan harus ditolak dan diemohi. Pendek kata, buat apa beragama, karena agama itu candu ! Ini yang justru kontraproduktif hingga ajaran Marx jadi haram adanya.

Padahal Marx menuliskan itu sebenarnya hendak menggugah, supaya agamawan dan umat beragama tidak keblinger menikmati agama sebagai candu yang membius dirinya. Marx menuliskan slogan itu utk menggugah supaya agama dikembalikan ke maksud baiknya sebagai inspirasi disiplin dan kesetiaan moral, ttg perkembangan hati, jiwa, dan pikiran manusia. Marx menulis itu agar agamawan dan umat bergama tidak membatasi agama dalam konteks hubungan manusia dengan Tuhan saja dan menafikan hubungan manusia dengan sesamanya. Agama jadi pembebas atau candu, tergantung mau kita apa.

Bukankah Yesus turut menguatkan tesisnya Marx itu? Dalam sabda bahagia Yesus memuji bahagia orang miskin. Meski sebenarnya ungkapan miskin yang dikatakan Yesus bukan dalam arti material, bisa jadi ini ditafsirkan keliru, entah oleh siapa saja demi keuntungan pribadi atau kelompok. Bagaimana?

Saya kira Yesus menyebut si miskin berbahagia untuk membuat pendengarnya tersentak dari kebiasaan cara berpikir dan pola hidup duniawi, yang berbeda drastis dengan prinsip dan pola hidup Kerajaan Allah. Dalam pola hidup dunia, yang kaya bahagia dan yang miskin tersingkir. Tidak demikian halnya di dalam Kerajaan Allah. Ucapan Yesus justru sebuah kata pengharapan, pemberdayaan bagi mereka. Bukan meninabobokkan mereka supaya tetap miskin, tetapi mengorangkan si miskin. So, Yesus peduli pada yang miskin dan berada di pihak antroposentrisme Marx.

Kepada yang kaya Yesus pada dasarnya mengingatkan akan bahaya kekayaan, bahwa ia senantiasa menghadirkan godaan untuk menemukan pegangan hidup dan rasa aman di luar Tuhan. Kekayaan itu sendiri tidak jahat, tetapi harus diwaspadai karena kekayaan bisa jadi opium yg dapat menguasai kita jika ia tidak dikendalikan.

Menilik ungkapan Yesus bukan dalam arti material, justru dalam bahasa Yunani ada dua kata untuk miskin. Yang pertama, adalah penes, yang menunjuk kepada orang yang miskin, namun begitu betapa pun minimnya mereka masih punya penghasilan, atau pekerjaan, atau harta milik. Mereka adalah petani gurem, buruh kecil, nelayan tradisional, pegawai rendahan, pedagang asongan.

Ada lagi kata yang lain, yaitu ptokhos. Nah, kalau ini adalah mereka yang betul-betul melarat, tidak punya apa-apa, termiskin dari yang miskin. Yang dimaksud Yesus para ptokhos. Di sinilah, letak sensasionalnya, kontroversialnya, dan radikalitasnya ajaran Yesus itu ! Yang paling hinda dina dan nista di mata manusia, dinyatakan berharga di hadapan Allah. Yesus nguwongke orang miskin supaya tetap punya harapan.

Dalam konteks keseluruhan, jelas Yesus tidak menghendaki pengkiutnya terjebak dalam formalisme agama, sebagaimana yang dimaksud Marx. Yesus sendiri menyamakan diri-Nya dengan yang miskin, lahir di tempat hina.

Yesus sendiri yang menjadi miskin sekaligus memperjuangkan kaum miskin. Di hari Sabat, Ia tetap menyembuhkan mereka yang sakit, meski ditentang keras. Yesus mengecam agama yang membuat mereka mandul dengan praktek formal seperti puasa, doa yang dipamer-pamerkan, serta penetapan aturan sabat yang amat ketat. Praktek formal keagamaan bagi Yesus hanya mengakibatkan masyarakat terpecah-pecah antara orang kaya dan orang miskin, orang yang berkuasa dan yang tidak berkuasa di bidang ekonomi, sosial, politik dan agama.

SabdaNya, yang dicatat oleh Matius: “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini kamu telah melakukannya untuk Aku”. KomitmenNya, seperti ditulis oleh Lukas ialah : “Roh Tuhan ada padaKu, karena Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin”.

Kata dan perbuatanNya menunjukkan bahwa Ia tidak pernah mengidentifikasikan diri dengan kaum kaya atau penguasa. Bagi Yesus, keTuhanan dan kemanusiaan merupakan hal yang tak terpisahkan sehingga tidaklah mungkin bagiNya pemujaan dan pemuliaan Tuhan tanpa kepedulian terhadap nasib manusia. Ia memberi waktu untuk ke bukit berdoa dan mengucap syukur kepada Bapa juga.

Yesus menghendaki terutama bukan norma suatu agama, melainkan sikap dasar, orientasi dasar, semangat dasar, religiositas dasar, bukan agama. Dari ukuran agama, Yesus bukan orang beragama yang baik, maka Ia dibenci oleh para Imam, ahli kitab dan kaum Farisi. Yesus menunjuk ke arah yang berlawanan. Yesus memberi ajakan, jadilah dulu manusia yang baik, manusia yang manusiawi, lewat kemanusiaan itulah jalan menuju Tuhan. Bagi Yesus, teosenstrisme yes, antroposentrisme yes. Sedangkan Marx, teosentrime no, antroposentrisme yes.

Kenapa orang-orang yang dianggap tidak ber-Tuhan alias komunis seperti di negeri China, Rusia, dsb secara sosial ekonomi lebih makmur dibanding Indonesia, Filipina dan sebagainya yang punya agama dan senantiasa berkutat pada agama ritual ?

Jangan-jangan Karl Marx mengatakan itu krn melihat banyak orang beragama yang rajin ibadah tapi untuk mejeng. Pulang ibadah lupa dengan kenyataannya, orang miskin tak dibantu dan tidak diorangkan ?

Sementara sekarang di Eropa, rumah ibadah kosong menurutku bukan karena yang muda tidak mau beragama/ke gereja. Tapi sudah mengamalkan ajaran iman yang ditanamkan para perintis agama yang sudah jadi santo santa. Pantas kan kalau para santo santa banyak yang datang dari sana.

Kemakmuran atau kemiskinan bisa jadi karena banyak faktor. Tentu tidak mudah menjawabnya karena ada banyak perspektif yang bisa digunakan. Cina yang memberi pembebasan SPP untuk 150 juta siswa, sebagai tanda kemakmuran, tentu karena kebijakan ekonominya yang berpihak pada kaum miskin, meskipun mereka komunis.

Jelaslah bahwa komunis tidak identik ateis, ibarat mie bakso dengan mie saja. Banyak mereka yang dianggap komunis atau yang dikomuniskan dari tanah air itu ternyata beragama. Memang ada juga yang ateis.Tapi jangan lupa, ateis itu artinya tidak percaya kepada Tuhan atau tidak ber-Tuhan. Bukan anti Tuhan atau anti agama. Menurut para komunis, mereka itu lebih anti atau memusuhi penindas, koruptor, pelaku ketidakadilan, UU yang tak memihak kesejahteraan rakyat, tidak peduli beragama atau tidak. Jadi komunispun bisa peduli pada kemiskinan. Orang komunis bisa marah kalau distigma atau dituduh anti Tuhan atau anti agama.

Di negara non komunis ada yang kemiskinannya memprihatinkan, tingkat pendidikan yang rendah dan pengangguran merupakan masalah serius yang membelit. Ahmad Munjid dari Wahid Institute mengatakan mayoritas umat adalah kaum yang terpinggir, kurang berarti dan selalu dicekam kehampaan waktu. Makin terpuruk dengan budaya ‘kotor’ kalangan politisi, empuklah mereka sebagai obyek yang siap ‘dimainkan’ sewaktu-waktu. Jadi, oleh para politisi dan pejabat pemerintahan, masyarakat memang sengaja dibuat miskin untuk jadi batu loncatan yang akan menguntungkan mereka kembali. Karena dengan diberi Rp.20.000 saja sudah senang dan mau nyoblos si pemberi uang itu.

Agama hanya menjadi salah satu faktor ketidakmakmuran. Ketika sintesis modernisasi kehidupan dan proses keberagamaan tidak bersepakat maka terjadi pendangkalan pemahaman terhadap agama dan hilangnya watak kritis ajaran agama itu sendiri. Agama yang mestinya jadi alat dahsyat dalam melakukan perubahan konstruki sosial masyarakat jutsru tumpul dalam menjembatani perbedaan antara si kaya dan si miskin. Keimanan dan keberagamaan hanya menjadi retorika kosong jika tidak melahirkan dan menyatu dengan kepedulian sosial.

Dalam konteks negara miskin, sayang sekali kaum agamawan tahunya hanya Kitab Suci, tak tahu tips dan trik bagaimana memberdayakan dan mensejahterakan umatnya. Umat beragama pun sudah puas dengan ritual dan formalisme. Padahal agama bisa jadi titik strategis untuk melakukan perubahan. Kalau tempat ibadah di Eropa kosong, bisa jadi tendensi aksi daripada ritual yang keblinger. Payahnya kalau beriman saja tidak, aksi-aksi juga tidak…

Sama Komunis Kok Takut

Pernah ada yang bilang kalau bahaya laten komunis harus selalu diwaspadai. Itu dulu, saat endonesya masih dipegang Soeharto. Kini Komunisme tak lagi menjadi momok, terutama bagi generasi muda. Bahkan sepertinya mereka bangga kalau dijuluki “Orang Kiri”.

Aku pernah ngobrol tentang komunisme dengan seorang teman waktu aku sempat tinggal di Cipinang. Dia aktifis salah satu partai yang anggotanya mayoritas kaum muda, mahasiswa. Partai tersebut mengusung ideologi sosialis katanya. Ketika aku tanyakan kepadanya tentang komunisme, ia begitu bangga menjelaskannya. Ia menyatakan kembali gagasan-gagasan Marx seolah-olah dia sendiri adalah reinkarnasi Karl Marx.

Satu hal yang aku ingat dari pernyataannya adalah, walaupun komunisme dianggap mati ketika soviet mengalami glasnost dan perestroika, maka saat itulah komunisme menjadi kekuatan tersembunyi di muka bumi ini. Ternyata orang yang aku mengajakku bicara ini memang memahami komunisme secara teoritis dan ideologis. Tapi tidak seperti teman-teman lain seruang. Mereka juga termasuk dalam kelompok itu. Tapi sejak awal hingga akhir obrolan, kulihat mereka hanya planga-plongo saja. Aku menangkap kesan, mereka hanya sekedar ikut-ikutan.

Tapi, apakah yang ikut-ikutan itu juga menjadi ancaman bagi tata kehidupan? Bisa ya bisa tidak. Jika pihak yang berwenang tidak mampu memberikan pengertian kepada para pemuda yang merasa bangga berhaluan kiri, lama-kelamaan sikap ikut-ikutan juga bisa merepotkan. Dari ikut-ikutan bisa meningkat jadi paham, meningkat lagi menjadi keyakinan, lagi, menjadi way of life, hingga benar-benar menjadi seorang komunis.

Itu realitas. Sama seperti anak-anak muda yang demen banget pakai atribut bergambar siluet Ernesto Che Guevara. Pernah aku bertanya kepada pengamen bis antar kota yang kebetulan memakai kaos bergambar Che. Aku tanyakan padanya, gambar siapa itu? Dia jawab bahwa itu adalah simbol perjuangan rakyat kecil, kawula alit. Aku bilang padanya, itu seperti gambar wajahnya Che. Pengamen itu sama sekali tak mengenal Che. Itu dia tunjukkan ketika bertanya padaku, siapa Che yang saya maksud. Saya terpaksa harus menjelaskan sedikit pengetahuan saya tentang orang Cuba yang menjadi andalan Fidel Castro itu. Perbincangan kututup dengan slentingan, “Kalau saja orang endonesya tahu profil si Pitung, mungkin gambar Pitung lebih populer ketimbang Che.” Pengamen itu tertawa terbahak-bahak.

Apakah komunis sebagai ideologi mampu menjadi solusi? Tidakkah kegagalan komunis di Uni Soviet itu menunjukkan kegagalan sebagai ideologi dan konsep kehidupan? Lalu mengapa masih juga generasi muda senang memakai atribut kiri? Mengapa anak-anak muda lebih merasa bangga beratribut kiri ketimbang muslim? Mengapa mereka merasa menjadi orang kiri itu lebih keren ketimbang menjadi muslim yang ta’at?

Itulah trend. Kebanyakan mereka hanya ikut karena merasa keren kalau berani melakukan perlawanan terhadap kekuasaan. Bahkan ada yang menjadi bangga setelah ditangkap polisi dan ditahan 3 hari dalam kurungan. Pengalamannya itu diceritakan kepada teman-temannya sebagai sebuah perjuangan besar menghadapi rejim Kapitalis. Btw, itulah trend yang bisa berubah menjadi ideologi kaum muda.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.